05/08/09

After Watching Concert

Hari Minggu kemarin, gw ama temen dan pacarnya temen gw pergi ke Kemang mau nonton konsernya SORE Band. Emang gak salah gw cukup berkorban buat nonton konser mereka. Bayar 30 ribu, plus jemput reserved ticket di Kemang sore-sore. Maklumlah, tempat terbatas, cuma 250 orang (tapi pas venue-nya kok rasanya lebih ya??), makanya gw bela-belain booking tiket dari 10 hari sebelumnya. Yang gw dapet, hmmm, senilai lah ama 30 ribu tadi.

Beres-beres bentar, mandi dan kemudian berangkat jam 7 kurang dari rumah. Maklumlah, nunggu waktunya pas, lagian temen gw juga datengnya telat. Sampai disana sekitar jam setengah 8, cari parkiran, dan untungnya gak jauh-jauh, diseberang persis venue-nya. Sambil nunggu biar gak mati gaya, gw belanja minuman di Circle K, minimarket tempat gw parkir motor. Sedang antri, teman gw datang, pas selesai bayar, ngobrol-ngobrol bentar terus langsung aja antri biar gak terlalu telat. Eh ternyata kita belum telat, karena emang baru buka jam 8. Antri tidak terlalu lama, kemudian kita masuk deh.

Ternyata tagline Las Familias nya gak cuma berarti ada featuring aja pas SORE main, tapi ada opening act dulu. Band yang main Payung Teduh dan Jude. Oke lah buat jadi opening, yang satu, seperti namanya, musiknya adem banget, gitar bass betot dan drum minimalis jadi senjatanya. Terus yang kedua Jude, mainin blues. Dahsyat lah, jarang-jarang ada anak muda main begitu, kalaupun ada biasanya juga orangnya gak ditemenin ama sekelilingnya (nice jokes Jimmy :D).

Akhirnya, yang dinanti-nanti datang juga, setelah dengar Jimmy ngelucu dan sedikit cerita tentang awal perkenalan dia dengan SORE, naiklah punggawa-punggawa SORE ke panggung. Dibanding dengan pas gw datang di PPKI dulu, mereka lebih well-dressed malam itu. Full-team juga, soalnya dulu pas nonton di PPKI, bang Echa gak bisa ikut dan diganti ama bang David Tarigan. Dimulai dengan sedikit jokes dari bang Awan, mulailah malam hebat itu.

Openingnya Bebas, intro dengan drumnya yang khas, bang Bemby memulai konser itu. Mulailah aura-aura konser terasa, iringan nyanyian dari penonton ikut menyumbang dalam lagu itu. Wihh, keren lahhh pokoknya. Terus lagu kedua, lagu favorit gw belakangan ini, yang gak bosen-bosen gw putar berkali-kali, Vrijeman. Sedikit kurang puas, karena kesan megah dari lagu ini kurang dapet pas mereka mainkan. Entah karena ekspektasi gw yang ketinggian, ato karena emang soundnya sedikit kurang mendukung. Tapi oke lah, kalau melihat overall kehadiran gw, konser ini gw kasih nilai 8.7, A- lah kalau dikuliahan.

Featuring nya juga mantep, Sari dari WSTCC, The Adams full, dan Jimmy Upstair. Nama terakhir gak sempet dengar karena dah harus pulang. Kalau gak salah sih, sebenarnya TIKA juga harusnya main disini, tapi entah kenapa kok gak main jadinya. Featuring ini mereka mainkan juga lagu dari teman mereka itu, Bersandar, Konservatif, dan klo gak salah yang ama Jimmy mainin Matraman.

Sound oke, visualisasi nyaman lah dilihat, komunikatif banget, featuring nya bagus, tempatnya homy banget soalnya venuenya kecil, crowdnya juga mendukung banget, and the girls...thx God, they're so beautiful, hehe. Emang itulah enaknya dateng konser band indie yang high class, gak alay gak rusuh penontonnya. Gak rugilah gw bayar 30 ribu, hoho.

Pukul 10.48 waktu Esia, karena teman gw musti pulang, terpaksa gw ikut pulang, masih pengen nonton banget sih, tapi dari pada mati gaya gw sendirian disitu (sebenarnya banyak anak FISIP yang dateng sih) tapi karena gw gak kenal, ya sudah pulang aja. Sampai rumah gak terlalu lama, trus ngecek Twitter, ternyata yang megang account SOREband ngupdate terus dengan apa yang sedang berlangsung disana. Huuuu, sirik deh, masih pengen nonton. Gw gak ngerti, gimana ya perasaan dari orang yang pengen nonton tapi gak bisa nonton dan ngikutin Twitter-nya, pasti gemes banget, hehehehe....

Besoknya, mereka bilang bahwa kemungkinan konser sejenis akan diadakan sekitar 6 bulan lagi. Fiuhh, masih lama ya, sekalian nunggu EP-nya keluar kali ya. Semoga aja di Jakarta, jadi gak rebek klo mo nonton, hoho...

See you!!!

27/07/09

What's on Idul Fitri Holiday

Seperti kebiasaan umum warga Indonesia, khususnya yang di Pulau Jawa, liburan Lebaran biasanya dipake buat kumpul-kumpulnya keluarga besar. So do my family, Lebaran biasanya dipake buat kumpul-kumpul keluarga satu nenek dari pihak bokap gw. Tapi denger-denger, ada yang spesial dalam liburan lebaran kali ini. Kakak tertua dari bokap gw (so gw manggilnya pakde), berencana untuk mengadakan kumpul keluarga besar sampai pihak adek kakaknya nenek gw. Bisa dipastikan bahwa jumlahnya akan luar biasa banyak, kalau dari pihak bokap gw aje ditotal ada sekitar 40an, klo ditambah dari pihak adek kakaknya nenek gw, gak tahu deh ada berapa, secara kalau udah beranak pinak ampe level cucu, satu keluarga bisa nyampe 10 orang skali brangkat.

Ini bukan yang pertama keluarga gw ada pertemuan besar seperti yang direncanakan ini, gw lupa persisnya, sekitar 5 tahun lalu kalo gak salah, ada pertemuan serupa. Disitu diceritain silsilah keluarga gw sampai ke tingkat buyut gw (3 tingkat diatas gw). Gw jadi tahu siapa-siapa aja keluarga gw, dan bagaimana gw seharusnya manggil mereka. Cukup menarik sih, tapi karena disampaikan dengan bahasa campuran dimana bahasa Jawa yang dominan, gw jadi bosen sendiri selama acara itu. Belum lagi penyampainnya yang cukup lambat, khas jawa, makin membuat gw ngantuk aje, groookkk.

Gw sih punya feeling, bahwa pertemuan pas libur Lebaran nanti bakal tidak jauh dari yang dulu, paling jumlah orangnya aja yang bertambah, secara ya itu tadi yang udah gw sebutin, banyak yang dah beranak pinak. Tapi ada satu yang cukup mengganjal di acara ini buat gw, karena akan disebutkan secara cukup detail orang-orang yang ada dalam silsilah tersebut, dimana salah satunya, dan kemungkinan besar, riwayat pendidikan dan status yang diemban pada saat itu (kerja, nganggur ato apa) pun akan disebutkan dalam pertemuan itu.

Wooowww, dengan status gw yang sekarang, gw berani jamin, gw bakal memalukan keluarga inti gw, dan terlebih gw sendiri pun akan begitu. Ketika nama disebutkan, akan ada omongan sana sini, baik nggaknya tergantung gimana performancenya. Nah, demi menyelamatkan nama keluarga dan harga diri pribadi, gw musti menyelesaikan skripsi ini, harus udah sidang sebelum lebaran. Kalo gak bakal ngerusakin pertemuan aje. Lagian gw musti ngurusin gathering angkatan yang bakal diadakan 2 minggu habis libur lebaran itu. Belum lagi mo ke Bandung, tempat Tian, mo main dan ngacak2 Bandung, hehe...

Need willingness, big effort, persistency, and praying hard.

24/07/09

Bomber is Nuts, Moronic, Idiotic, Brainless

Satu minggu lalu, tanggal 17 Juli 2009, sekitar jam 7.50, Indonesia dan Man. United fans (gw gak sih untuk yang kedua ini, najis deh) kembali berduka oleh adanya penyerangan bom di dua hotel di daerah Mega Kuningan, J.W Marriot dan Ritz Carlton. Tidak lama setelah terjadi pengeboman, diketahui bahwa kejadian ini adalah suatu peledakan bom, karena sebelumnya sempat diperkirakan bahwa ledakan itu terjadi karena adanya genset yang terbakar kemudian meledak. Tidak lama setelah dengar berita di TV, gw buka internet untuk ngecek social network yang gw ikutin (Twitter dan Facebook), dan betul aja, komen dan statusnya seragam, yaitu menyebutkan tentang ledakan yang terjadi di Mega Kuningan. Tidak sedikit dari beberapa komen tersebut yang juga sudah menganalisa sebab dan dampak dari ledakan tersebut. Ledakan bom, ketakutan bahwa MU gak jadi dateng berseliweran di status-status tersebut.

Selama 1 minggu kedepan, pemberitaan tentang ledakan ini masih jadi headline atau berita penting di televisi dan koran. Analisa dampak dari beberapa sektor, misal ekonomi, pariwisata, keamanan dll, analisa pelaku peledakan, dari JI, pecahan-pecahan JI, masih berhubungan dengan Al-Qaeda, pihak yang kalah dalam pilpres kemarin serta CIA dan Mossad (dua analisa terakhir menurut gw sangat gak masuk akal dan konyol, disatu sisi emang bersumber dari pihak-pihak yang secara pribadi gw gak suka sih, hehe). Selain pemberitaan yang rame di media massa, peledakan ini juga memicu semacam spirit untuk kita tidak takut dan tetap menghadapi segala sesuatunya dengan santai. Di twitter dan facebook muncul topic dan group “Indonesiaunite”, semacam pernyataan sikap bahwa kita rakyat Indonesia gak takut dengan teroris dan aksi-aksinya. Acara Metro TV semalam juga punya topik yang sama, mengajak masyarakat untuk bersama-sama punya keberanian menghadapi pergerakan teroris ini, tunjukkan bahwa mereka gagal menteror kita, membuat kita takut, dengan bersikap biasa aja akan kejadian ini. Acara ini mengundang beberapa pihak, mahasiswa, cendekiawan, asosiasi usaha, musisi, untuk sama-sama mengkampanyekan spirit ketidak takutan ini.

Bagus lah kalau begitu, dari kejadian buruk ini masih ada yang bisa disyukurin, bahwa masyarakat jadi aware akan terorisme. Kalau kata Syamsudin Salim, sense of intelligence nya orang Indonesia selama ini kurang, mungkin terlalu ramah kali yee. Spirit nasionalisme juga jadi muncul karena kejadian ini, tapi ya gw berharap sih gak anget-anget tai ayam aje, seminggu dua minggu pasca kejadian lantas dah gak mikirin dan gak punya sense of belonging dengan bangsa ini.

Nah, yang bikin gw kesel, si teroris ini otaknya dimana sih?? Kalau punya ya dipake toh. Sebelumnya, gw mendasari kekesalan ini dengan asumsi bahwa pelaku pemboman ini adalah kelompok radikal suatu agama dimana salah satu fahamnya adalah bahwa musuh mereka layak dibunuh, dan pembunuhnya, dalam kasus ini pemboman bunuh diri, akan dapat free access to heaven. Kayaknya dah jadi common sense deh bahwa menghilangkan nyawa orang dengan sengaja, apapun alasannya dan apapun minumannya, tidak bisa dibenarkan. Hidupnya dia ya haknya dia, gak bisalah dihilangkan seenaknya, yah meskipun beberapa peraturan hukum memberlakukan adanya hukuman mati atas suatu pelanggaran, tapi intinya adalah hormati haknya dia untuk hidup, terlepas dari brengsek atau menyebalkannya dia. Kurang lebih begitu masalah hidupnya. Terus juga masalah nyali, kan kelompok yang dituding pelaku ini, sudah diketahui bersama bahwa musuh besar mereka adalah Amerika dan Yahudi (sangat menggeneralisir yah, kek gak ada yang baik aja diantara mereka), nah terus lu ngapain nge-bom di Indonesia kalau begitu. Emang sih kalau ngelihat dari lagunya Enno Lerian jaman dulu banget, katanya kalau mau makan restoran padang, gak berarti harus ke padang. Jadi kalau mo mengeliminir Amerika dan musuhnya emang gak harus ke Amerika. Tapi kan dampaknya itu loh, kalo ngebom di Indonesia, ya orang Indonesia lah yang paling kena dampaknya. Kalau emang benci mereka (bukan mendukung bahwa kebencian harus dibalas ya, tapi masalah nyali), ya samperin lah mereka yang lo benci itu. Malah ngacak-ngacak negara lain, mana biasanya negara sendiri lagi yang diacak-acak, bego luh!!!

Kemudian apa solusinya, jangan cuma menghina tapi gak ngasih jawaban ye, ketahuan banget orang Indonesianya kalau menghina doang tapi gak ngasih solusi. Melihat bahwa yang salah adalah isi kepala dan nuraninya, jadi ya dua itu yang harus dibenerin. Ajarin bahwa hidup itu berharga, hak setiap orang, tidak memandang siapa dan apapun yang telah dikerjakan orang itu. Pendidikan HAM keknya perlu, iya gak sih? Adalah dua kali pertemuan di level SMP dan SMA. Jangan baru dikasih di kuliah, keburu dah diracun ama orang lain pemikirannya. Sekali lagi ujung-ujungnya pendidikan ya!! Smoga pendidikan yang baik bisa sampai ke daerah-daerah terpencil. Serem juga kalau gak dibenahin, masalahnya pelaku-pelaku dari yang udah-udah, kebanyakan berasal dari wilayah yang miskin dan secondary lah. Nah, di Indonesia, wilayah seperti ini kan masih sangat banyak, wilayah maju dan wilayah miskin jauh lebih banyak wilayah miskin. Kalau tuh teroris dan peracun otak orang bisa nyampe ke sana, bisa jadi sarang teroris nih Indonesia.

For better Indonesia, for better mind!!!

17/07/09

Ikutan Retreat Pemuda

Wih wih wih...akhirnya Sabtu - Minggu lalu gw ngikut acara kepemudaan gereja. Malahan skupnya gak cuma tingkat gereja Joglo aje, tapi seklasis Jakarta Bagian Barat. Totally ada 9 gereja yang ikut dalam retreat ini. Pesertanya sekitar 120an klo gw gak salah ingat dan denger.

Pertama kali diajakin sama salah satu pemuda (pemudi sih tepatnya) gereja gw sekitar 2 minggu lalu. Kaget n excited pas pertama kali denger ajakan ini, kaget karena sifatnya yang ujug-ujug (a.k.a tau tau aja) dan juga, kalau kata pepatah, gayung bersambut lah. Dah lama pengen ikut acara2 di gereja, tapi belum tahu mulai dari mana. Kebetulan eh kebetulan diajakin retreat ini, ya sud,sikat laee.

Persiapan standar lah, baju secukupnya, alat tulis, alkitab, dan beberapa makanan untuk bertahan hidup dan bertahan dalam perjalanan (misalnya kacang, sereal, dan susu). Bangun agak telat, karena aturannya jam 7.30 harus sudah sampai sana, tapi jam 7 baru saja tersadar. Kalo mo maksain sih bisa aja, tapi bisa pergi dengan umpatan di belakang karena gak ngerjain beberapa pekerjaan domestik rumah tangga. Akhirnya kasih tahu penanggung jawab gereja gw klo gw bakalan telat dan menawarkan solusi kalau gw nyusul aje. Tapi akhirnya dia memutuskan untuk menunggu gw di Joglo. Ya sudahlah kalau gitu, kerja, mandi, trus brangcut deh. Eh sampai Joglo, waktu menunjukkan pukul 8.20, wahaha, telat bet. Keliatan banget Indonesianya.

Sampai Joglo, kenalan dulu dengan beberapa pemuda dari gereja lain, trus nongkrong deh ngobrol2 buat membangun chemistry (alahh), yah wajarlah, gw cukup ilang2an dari pergaulan gereja gw. Nunggu satu orang yang gak bisa dihubungi, tapi karena gak bisa dihubungi akhirnya diputuskan ditinggal aje, ntar klo akhirnya bisa, nyusul aje, dianterin ama orang gereja gw.

Sampai di sana, kekhawatiran gw akhirnya menunjukkan kenyataan, keknya gw bakalan mati gaya selama retreat ini. Gw gak kenal orang lain selain orang gereja gw sendiri, even yang satu gereja pun cuma kenal 1 orang, soalnya sama2 veteran. 2 lagi masih remaja, jadi gak tau. Tapi ya udahlah, pelan-pelan pasti dapet kenalan juga lah.

Perjalanan cukup lancar, begitu juga mati gayanya, lancar banget. Hampir diem total selama perjalanan, ngomong juga cuma buat basa-basi en minjem2 hnpon buat dengerin lagi. Kira2 2 jam lebih akhirnya sampai juga ke tempat tujuan. Penilaian buat tempat, okelah, gw kasih 8 buat tempatnya. Comfy, hijau, bangunannya gak terlalu megah, dan luaaassss banget tempatnya. Kalau ada tempat segede gitu di Jakarta berani taruhan pasti dah disabet ama developer buat bangun pertokoan ato apartemen. Makanan enak, kasur nyaman, dan yang penting, udaranya sejuk. Meskipun siang agak terik, tapi terasa pas hirup napas, terasa agak dingin di hidung, mirip banget di Bandung. Ketahuan deh ntar malam bakalan dingin. Bner aje, dingin, dingin banget malah, tapi entah juga sih, apa karena gw juga yang sedang demam, makanya terasa dingin banget kakinya.

Acaranya, yah lumayan lah, bagus sih scara konsep, tapi mungkin dalam beberapa hal harus lebih diperhatiin detailnya. Udah ada diskusi, outbound tapi games, dan beberapa event yang mengajak buat peserta untuk nyatu. Yang paling gokil adalah ternyata gereja gw disuruh mimpin satu sesi pada Sabtu malam. Jadi harus ada pemusik dan MCnya. Gilanya, pertama kali gw disuruh jadi MC dalam sesi ini, yang dengan pertimbangan tapi cenderung menolak untuk bagian ini. Untungnya si pemuda satu ini menyetujui untuk tidak menjadikan gw MC, dan dia sendiri yang akhirnya menjadi MC. Pastiin lagi bahwa gw tidak jadi MC, trus ngelenggang deh ke kamar buat lanjutin tidur, secara gw mulai terasa demam saat itu.

Bangun setelah tidur2an sekitar stgh jam, balik ke aula, nanya perkembangan dan ngambil snack, diputuskan bahwa gw akan bermain drum buat sesi kedua nanti. Tegang, kaget dan excited. Gile, akhirnya gw main drum juga setelah dua tahun absen. Wuihh, tegang sih, mana persiapannya hanya sekitar 1 jam, dimana efektif latian cuma 20 menit ditambah gw gak tahu lagu2nya. Sambil nunggu ke sesi bagian kami, dengan tegang, ngantuk, demam, akhirnya selesai juga sesi pendahuluannya. Ngobrol bentar, dengar lagu bareng2, akhirnya kami latihan, dan gak makan malam dulu karena emang waktunya ngepet, eh mepet. Ambil ancang2 dengan gak ribet, intro dari reff dan fill in yang gak terlalu ribet biar gak salah masuk, akhirnya selesai deh latihannya dengan masih tegang dan bertanya sana sini dalam hati karena emang lagu2nya masih belum mantap.

And the show time, gw tidak terlalu tegang, paling ngerasa permainan gw sering ilang tempo, gak match ama MC dan jemaatnya, apalagi yang lagu pertama. Sama banget dengan judulnya, ritmenya gw rasakan terbang kemana-mana, hehe. Akhirnya selesai, dan buru2 minta obat dan ngendon di kamar untuk mencegah si demam ini bertambah parah. Pengen nnton sesi Klasis XXI, tapi diperingatkan oleh panitia untuk istirahat, ditambah gw dah nonton filmnya, ditambah akhirnya gak jadi juga karena kemalaman, yo wis, gw tidur.

Bangun tidur, ngulet dulu di ranjang karena malas, dan ntah kenapa kaki rasanya menggigil. Gw juga nanya sih ama beberapa orang, apakah dinginnya karena gw sakit ato emang tempatnya dingin. Makan, ngeteh, sambil ngobrol2 gw lakukan pagi itu. Udah tahu jadwal, kemudian mandi dan siap-siap.

Wow, kami kedatangan tamu dari Korea. Ntah ini accidental atau emang direncanain dari awal, soalnya gak ada kabar apapun pada malam sebelumnya ttg kedatangan Park Ji Sung-ers ini. Kami ibadah minggu bareng, yang rasanya mixed antara tradisional dan karismatik, megah banget musiknya. Mana lagunya begitu semua, kontemporer, makin mati gaya lah gw ibadah itu. Kemudian setelah ibadah selesai, kami "beramah-tamah" dengan orang Korea tadi. Mereka (induk semangnya sih) ngasih kesaksian tntang perkembangan ke-Kristenan di Korea. Kemudian ada sedikit performance dari mereka, lagu dan tarian-tarian gitu deh. Selesai ibadah pagi++ ini, kami siap2 buat outbound.

Ganti baju, pake kaos kemarin, bercelanakan celana sarung yang dilipat, gw pergi ke aula nunggu mobilisasi, sekalian kumpul ama tim. Ternyata beberapa orang Korea juga ikut dalam tim ini. Lucunya, mereka tidak terlalu ngerti bahasa Inggris, kami jadi kesulitan buat komunikasi. Gestures dan kata2 yang sederhana jadi andalan kami buat berkomunikasi sama mereka. Kemudian kami berjalan ke bawah, yang jauhh banget sampai buat beberapa dari peserta mengeluh capek.

Di potong aja deh ceritanya, intinya kami juara 4, cihh, gw ngerasa bersalah karena ilang poin di game ketiga. Komunikasi dengan Koreanese itu cukup baik lah, meskipun sedikit miss untuk beberapa hal. Badan cukup letih karena permainan ini memaksa kami utk berlari-lari. Game selesai, denger pengumuman juara, terus kami kembali ke ruangan atas, packing sekalian ganti baju n mandi kalau ada yang mau. Ibadah penutup, closing, foto-foto, pulang deh.

Sampe di rumah sekitar jam stgh 8. Acaranya cukup menyenangkan, apalagi mata ini terbuka bahwa banyak cewe2 jawa lucu di lingkungan gereja gw, hahaha. Ya udah deh, nasib baik gak bisa ditolak.

A stepping stone to another environment!! Welcoming church to mine.